Showing posts with label XO. Show all posts
Showing posts with label XO. Show all posts

Thursday, March 8, 2012

Pasir Hitam


Ilusi mata, jejak yang terhapus
Aku hilang arah, lelah dan mencerca

Mencari teman, hilang
Berjalan sendiri, sesat              
Berdiam terpejam, hancur

Aku teriak tanda tak kuasa
Aku menangis tanda tak percaya

Pantulan cermin membuat putus asa
Pantulan kepalsuan dalam binar pasir hitam

08/03/12
5.17 pm

Untuk Kamu


Untuk kamu si 27
Yang tidak akan pernah menjadi 14

Untuk kamu sang penghibur
Yang tawanya dalam dan menyakitkan

Untuk kamu si hati nurani
yang ajaibnya membuat semua orang menjadi bimbang

Untuk kamu yang tak terduga
Yang hadirnya masih sering kutertawakan

Untuk kamu, cuma kamu
Sahabat, yang terpaksa aku tinggalkan

4.54 pm

Saturday, November 26, 2011

Pemadam & Abu

Malam yang seperti biasa, dan aku ingat. Tanpa niat dan tanpa persiapan, aku melihat api itu muncul. Menyadari, tapi tidak bertindak. Memang apa yang harus aku lakukan? Tidak ada yang salah atas semua itu. Bagaimana pun itu hanya api.

Terpesona oleh malam, membaurkan semua salah , membiarkan aku terjatuh dalam layar kaca dan seketika berubah menjadi abu. 1,2,3 dan 4, sudah berapa lama aku pergi? Rasanya baru kemarin.

Api tidak bercanda. Aku meremehkan lalu dia menantang. Tanpa disadari, samar kulihat sang pemadam. Mengawasiku melalui mata itu. Mata yang paling kubenci. Serius. Aku slalu benci tatapannya. Sangat merendahkan. Apa karena aku bukan putih, melainkan abu?

Tidak, bukan, salah. Selalu aku tekankan, semampuku. Niat aku bulatkan, janji aku genapkan, tapi hasilnya? Tombol itu selalu aku tekan kembali. Sadar dong sadar...  Dia memadamkan, tapi dia juga yang menyebabkan kebakaran lain di sisi satunya. Lantas apa akhirnya? Hilang satu tumbuh yang lainnya. Itu kata yang lain kan? Tapi rasanya sangat tidak untuk yang satu ini. 

Lalu kenapa aku harus ikut terbakar? Zona aman adalah pijakanku sekarang kan? Apa karna pengaruh sang waktu, sehingga tanpa sadar aku ke luar dari batasan yang ada? Haus akan perwujudan, kurang keras mempertahankan, mungkin jadi penyebabnya. Tapi sepertinya kali ini taktikku kalah lagi. Tombol itu kutekan, dan aku bicara. Tapi aku bukan pengecut, akan kuakhiri lagi sangkalan ini. Secepatnya.

Wednesday, November 9, 2011

Diam


Tau rasanya saat setiap orang berpendapat tapi kamu ngga bisa dengar apapun? Menyudutkan mereka untuk merespon, berteriak, memahami, memaksa, tapi yang kamu dapatkan ngga lebih dari pantulan diri kamu sendiri sebagai jawabannya. Selanjutnya yang terjadi? diam. Diam yang benar-benar diam. Lalu kamu mulai lagi mengulangi rentetan kejadian yang sama. Meminta mereka berbicara. Padahal kamu tau apapun jawaban mereka, kamu tidak akan benar-benar mendengarkannya. 

Rasanya tidak nyaman saat harus memendam semuanya sendirian. Tapi, apa lagi yang bisa dilakukan? Apa cuma mencari, jawaban dari semua permasalahan ini? Atau mungkin, lebih baik menunggu bantuan sang pemadam seperti biasa? Tapi sampai kapan? Sampai dia melemah, menyerah dan akhirnya kamu terbakar sendiri? Dan kelanjutannya? Tentu saja seperti biasa, kediaman yang sama selalu menunggu dengan setia, ironis sekali. 

Bisa kita lupakan dan memulai seakan-akan kita berada di memori yang lain? Tolong..

Dan tentu saja jawabannya tidak, kan?

Tapi, bolehkah aku meminta (lagi, seperti biasanya) suatu permintaan? Aku tau Kau sudah memberi dan menunjukanku banyak hal, lebih dari yang pantas aku dapatkan selama ini.  Tak pernah bosan Kau terus memberiku hadiah yang akhirnya membuatku malu sendiri karna yang ku perbuat tidak sebanding dengan apa yang Kau berikan. Tapi saat ini, sepertinya aku membutuhkan ini. Membutuhkan sedikit tambahan keyakinan dari-Mu. Karna aku tidak bisa selamanya berlindung mengandalkan matahari itu. Cepat atau lambat dia akan meniggalkanku. Tanpa keyakinan itu, mungkin sebentar lagi jalanku akan melemah dan aku tidak akan bisa berlari. Jadi.. bisakah? Bantu aku mengusir diam ini. Agar kebisingan bisa dapat aku rasakan kembali. Tolong.